Film Tan Malaka dilarang karena otoritas ‘masih terjebak narasi sejarah versi Orba’
Film Tan Malaka dilarang karena otoritas ‘masih terjebak narasi sejarah versi Orba’

Film Tan Malaka dilarang karena otoritas ‘masih terjebak narasi sejarah versi Orba’

Diposting pada
Lk21 – Pelarangan film dokumenter mengenai pahlawan nasional Tan Malaka di Padang, Sumatera Barat, diakibatkan pasal pengambil keputusan ‘masih. terjebak oleh narasi sejarah versi Orde Baru’
Hal ini dituturkan pengamat sejarah perguruan tinggi Indonesia, Bonnie Triyana, mengomentari pelarangan penayangan film Maha Guru Tan Malaka di Padang, terhadapSabtu (21/04).
“Kita termakan oleh isu atau kisah yang difabrikasi dari ketika zaman Suharto. Ini dapat ditinjau dari kebijakan otoritas, pemerintah, atau pihak keamanan yang hampir senantiasa antisipatif pada film atau hal-hal lain yang diduga berhubungan dengan isu-isu komunisme,” kata Bonnie kepada BBC Indonesia, hari Senin (23/04).
“Padahal sebetulnya nggak segitu-gitu amat, maksudnya tidak butuh adanya yang dikhawatirkan. terlebih jika mengenai Tan Malaka,” imbuh Bonnie
BBC Indonesia telah menghubungi pihak-pihak terhubung yang disiarkan melarang pemutaran film Maha Guru Tan Malaka di Padang, namun hingga berita ini diturunkan, sambungan telepon ke kapolda Sumatera Barat, kepala Polresta Padang serta komandan Korem Wirabraja tak terjawab
Diduga pelarangan ini terhubung dengan kekhawatiran jikalau film tersebut ‘bisa. menjadi medium sebaran atau penyebaran ideologi komunisme’,. kekhawatiran yang ditolak oleh sutradara film ini, Daniel Rudi Haryanto.
Ia memaparkan film dokumenter yang ia garap berkisah mengenai trip seorang pemuda bernama Marko menyusuri kembali jejak-jejak Tan Malaka di Belanda.
“Dan tak adanya setara sekali kata komunis, logo komunis, ataupun seluruh yang dituduhkan itu,” kata Rudi.

Pesan sejarah untuk kaum muda

Dalam film berdurasi setengah pukul ini, Marko seakan memasuki relung waktu, berjalan ke waktu lalu, dengan gaya video blogging atau vlog, format yang sengaja ia pilih supaya pesan yang ia kirim dapat efisien masuk ke kalangan muda di Indonesia.
Rudi ingin, melewati film Maha Guru Tan Malaka ini, generasi muda menjadi lebih menelisik trip sejarah Indonesia diantaranya kontribusi Tan Malaka di dalamnya

“Kalau adanya tuduhan film ini ialah pintu masuk penyebaran komunisme, itu tuduhan yang tidak masuk akal serta tidak berdasar,” kata Rudi
“Film ini juga sebagai bentuk terima kasih atas jasa serta perjuangan para pahlawan, diantaranya Tan Malaka,” tambahnya.

Rudi menggarap film ini atas pertolongan dana dari Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, menyebutkan film Tan Malaka ini bagus pasal memakai pendekatan baru. “Jangan segan belajar sejarah, sejarah itu keren, sertadengan sejarah itu kita tahu, kita ini siapa serta kita mau ke mana,” katanya.
Ini ialah pelarangan pertama film Maha Guru Tan Malaka, sehabis lebih awal antara lain diputar buat kalangan terbatas di Malang (Jawa Timur), Tebet (Jakarta), Tangerang (Banten), serta Lampung.
Menurut pemerhati sejarah Bonnie Triyana, narasi sejarah Tan Malaka versi Orde Baru masih banyak dipegang oleh otoritas. Di luar itu, dari aspek hukum, masih adanyaketetapan MPRS tahun 1966 mengenai pelarangan ajaran komunisme, Marxisme, serta Leninisme.
Disuruh adil
“Cakupan ayat dalam MPRS tersebut amat luas. Dulu Abdurrahman Wahid mengusulkan supaya ketetapan MPRS itu dicabut, tetapi memperoleh penentangan,” kata Bonnie.
Ia menyebutkan mestinya sesegera mungkin adanya batasan yang jelas. walau demikian, film-film layaknya Maha Guru Tan Malaka ini tidak semestinya dilarang.
“Jika adanya film yang membagikan informasi kepada generasi muda mengenai sosok Tan Malaka, yang sebetulnya juga pahlawan nasional, pemerintah sebagusnyamembagikan kelonggaran. terlebih jika bila pemutarannya dilaksanakan di kampus-kampus,” kata Bonnie
Bonnie juga meminta seluruh pihak di Indonesia buat adil atau fair terhadap sejarah.
“Kalau kita belajar sejarah pergerakan terhadap era 1920-an, mau tidak mau kita sesegera mungkin membahas siapa itu Tan Malaka, mau tidak mau kita sesegera mungkinmenyebut orang-orang yang beraliran kiri, kalau tak itu namanya merubah bentuk sejarah dengan menghilangkan setara sekali peran mereka,” kata Bonnie.
“Itu persoalannya, kita menjadi tak adil. cuma pasal peristiwa 1965, yang dituduhkan kepada PKI, lalu kita jam rata seluruh gerakan komunisme yang menjadi area dari sejarah Republik ini sesegera mungkin dihilangkan,” katanya.
Tan Malaka ialah tokoh kiri yang dari ketika awal mencita-citakan Indonesia merdeka dari kolonial Belanda. disamping pernah diasingkan serta menjadi legenda aktivis politik bawah tanah sepanjang bertahun-tahun, laki laki kelahiran 1897 ini juga menulis sebagian buku terkenal.
Di mata keluarga, layaknya disampaikan Hengky Novaron, Tan Malaka -yang mati dunia terhadap 1949- ialah panutan
“Bagaimana anak cucu dapat mengambil temuan dari sosok Tan Malaka. Insya Allah ke depan lebih dari Datuk Ibrahim Tan Malaka. Ia bukan cuma secukupnya milik Minangkabau, milik nasional, tetapi milik internasional,” katanya.
Menurut sejarahwan Asvi Warman Adam, pemerintah Indonesia sudah menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional terhadap 1963, tapi ‘sejak. 1965 namanya takadanya lagi, walau gelarnya tak pernah dicabut’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *